Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

FEMONENA Pasca Ahok Menjadi TERSANGKA, Nomor 3 Bikin Heboh

Cagub dan Cawagub DKI Peserta Pemilu 2017

Paling tidak ada tiga fenomena yang saya amati setelah Ahok ditetapkan sebagai tersangka.

PERTAMA, perang tagar di media sosial antara #KamiAhok dan #PenjarakanAhok. Bisa diduga, yang menang perang tagar tersebut #KamiAhok. Mengapa? Karena kubu pro Ahok memiliki banyak robot-robot virtual yang bisa digerakkan secara otomatis untuk mengangkat sebuah topik perbincangan di media sosial menjadi viral.

Faktanya, saat melakukan aksi lapangan, jumlahnya cuma puluhan atau cuma ratusan. Hal ini tidak penting, bagi saya ini cuma manipulasi politik di ruang virtual. Mencari kenikmatan semu, abaikan tetapi harus tetap disadari ini realitas palsu. Jangan mudah terkecoh!

KEDUA, membangun citra Ahok adalah korban, istilahnya adalah playing victim. Arahnya jelas, meletakkan Ahok sebagai korban yang dizalimi untuk mendulang simpati agar saat Pilkada Ahok meraih kemenangan satu putaran. Menurut saya, hal kedua ini bukan berdiri sendiri atau terpisah, tapi bagian dari gerakan yang terlihat sistematis.

Bila hal pertama operasi udara, maka hal kedua operasi darat untuk 'menduduki' dan 'memaksa' perasaan atau opini publik berpihak pada Ahok. Untuk menunjang operasi darat ini, sejumlah pemain figuran ditampilkan. Ada lah sopir taksi pakai kopiah (simbol Islam) yang menangis meratap sedih Ahok jadi tersangka, ada pula emak-emak berjilbab (simbol Islam) yang memeluk Ahok dengan erat, terharu.

Bagi yang paham drama politik, mudah sekali membaca realitas itu sebagai stimulator untuk merangsang simpati publik. Sasarannya jelas, Muslim kaum miskin kota yang memiliki suara mayoritas.

KETIGA, menghadapkan Ahok head to head dengan Habib Rizieq. Hal ini saya baca sebagai bentuk 'serangan' untuk memecah konsentrasi semakin terkonsolidasinya kekuatan politik umat Muslim. Dengan menghadapkan Ahok head to head dengan Habib Rizieq, Ahok sebenarnya sedang 'berbicara' pada kaum Muslim Abangan yang lebih modern, urban, toleran, moderat bahkan liberal yang jumlahnya lebih besar dari kaum Muslim fundamental.

Dalam konteks tersebut, di mata Muslim Abangan, tentu Ahok akan lebih dinilai positif di banding Habib Rizieq yang oleh mereka dinilai memiliki rekam jejak negatif. Di saat bersamaan, berbagai rekaman ceramah Habib Rizieq yang bernada provokasi disebarkan. Umat Muslim yang semula mendukung dibuat menjadi ragu-ragu.

Jika tiga skenario ini berjalan, Insya Allah Ahok akan memenangkan Pilkada DKI dalam satu putaran. Kalau Ahok yang terpilih menjadi Gubernur DKI, jangan rusuh ya, kita harus belajar politik sehat. Cukuplah Pemilihan Presiden AS saja yang rusuh.

Sebaliknya, jika Ahok belum ditakdirkan memenangkan Pilkada DKI, akan lebih elok jika Ahok lega dan ikhlas. Masih banyak daerah lain yang kabarnya menginginkan Ahok sebagai Gubernur. Ahok bisa mengadu nasib di Pilkada daerah lain atau mungkin memang kelas Ahok adalah Presiden atau Wakil Presiden RI, semua masih misteri.

Oleh  DR Iswandi Syahputra, Pengamat Media UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
[ROL]

Pagarsih Bandung Kini Sering Banjir, Ternyata Dulunya Adalah Situ Aksan dan Persawahan

212NEWS. Hujan deras yang turun selama beberapa jam menyebabkan kawasan Jalan Pagarsih, Kota Bandung, kembali dilanda banjir. Arus lalu lintas di kawasan tersebut lumpuh.

Ketua RW02, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astana Anyar, Cepi Setiawan hujan deras yang turun sekitar pukul 11.00 WIB membuat aliran sungai di kawasan tersebut meluap hingga ke jalan. Ketinggian banjir hampir satu meter.

"Banjir lagi soalnya hujan deras ditambah air kiriman dari hulu. Jadi air sungai meluap sampai ke jalan," Bahkan banjir kerapakali melanda Pagarsi Bandung beberapa minggu ini.

Bandung adalah dataran tinggi yang merupakan Gunung Purba Sunda. Kemudian berubah menjadi Danau Purba Bandung. Bandung berada pada ketinggian 625-775 meter dpl dan dikelilingi oleh perbukitan dan pegunungan.

Foto Situ Aksan Pagarsih tahun 1970an, facebook Lutfi Afandi

Lantas mengapa masih terjadi banjir di Kota Bandung? Terutama di kawasan Pasir Koja dan Pagarsih.

Zaman dahulu di Kota Bandung ada yang namanya Situ Aksan. Kata situ berasal dari bahasa Sunda, bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya danau.

Memang zaman dahulu Situ Aksan itu adalah sebuah danau kecil sebagai penampuangan air. Pada 1970-an Situ Aksan masih berfungsi sebagai salah satu lokasi rekreasi favorit masyarakat Bandung. Ternyata, danau itu juga berfungsi sebagai drainase.

Pada 1980-an Situ Aksan sudah merupakan kolam pemancingan dan kolam tempat itik dan angsa berenang. Situ Aksan, satu-satunya danau yang masih tersisa di Kota Bandung pada 1970-an.

Itulah pengingat terakhir bahwa Bandung pernah menjadi danau luas di zaman purbakala sebelum situ itu diuruk jadi perumahan di awal 1980-an.

Sekarang Situ Aksan sudah jadi sebuah nama jalan di antara Jalan Suryani dan Jalan Pagarsih. Kawasan itu sekarang jadi salah satu sentra bisnis dan sebuah perumahan di Kota Bandung. Akhir-akhir ini daerah Pagarsih sudah beberapakali diterjang banjir.

Zaman dahulu, pemerintah Hindia Belanda menyebut Situ Aksan dengan nama Westerpark dan nama jalan ke Situ Aksan diberi nama Westerparkweg. Sekarang jalan menuju Situ Aksan itu dinamai Jalan Suryani. Di kawasan itu juga dulunya terhampar pesawahan yang sangat luas.[fb, detik]

Inna Lillahi... Tidak Mampu Bayar Ambulance, Seorang Pemulung Gendong Mayat Anaknya 10 KM


Dimanakah sebenarnya para penguasa negeri ini, dimanakah para politikus yang ketika masa kampanye caleg pilpres, pilbup, pilwali dan pil-pil lainnya mengobral janji akan memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya.
Apakah negeri ini masih memiliki penguasa yang punya hati nurani ketika melihat di sekeliling mereka masih begitu banyak rakyat yang untuk menyambung hidup saja begitu susah, bahkan di cerita berikut untuk menguburkan mayat anaknya saja tidak memiliki uang.
Kisah ini sebenarnya sudah beberapa waktu lalu kejadiannya dan sempat beberapa forum membahasnya, namun ruanghati ingin mencoba membagikannya bagi yang belum sempat mengetahui kisah ini, berikut cuplikannya dikutip dari forum kaskus.us.
Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor pun geger. Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL.
Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi.
“Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari”. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00 Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu.
Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak.
Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik.
Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya.
Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya.
Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karen atidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.
Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan. Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama.
“Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia”, ujarnya.
Lalu dimanakah perwujudan dari isi Undang Undang Dasar negara ini ( Pasal 34 UUD 1945) yang menjamin kehidupan rakyatnya baik kaum miskin dan anak yatim dipelihara oleh negara. Undang-Undang Dasar merupakan amanah dari para pendiri negara ini yang harus dilaksanakan oleh siapapun yang berkuasa di negara ini. Lalu bagaimana kenyataannya.
sumber: ruanghati


Jokowi dan Ahok adalah OBAT bagi Indonesia

MUSLIMANEWS. Nama Jonru mulai meroket semenjak pilpres 2014. Sebelumnya, nama Jonru dikenal di kalangan penulis buku online. Menjadi semacam fenomena karena apa yang dikritisi Jonru memang kontroversial. Kadang tampak anti streamline tapi pada akhirnya tampak benar analisis Jonru. Terbaru di November ini, Jonru bilang kalo Jokowi dan Ahok adalah Obat bagi Indonesia. Halo? :) 

Berikut selengkapnya seperti dia post di laman facebook nya

Jokowi dan Ahok adalah OBAT bagi Indonesia

Ada satu argumen konyol dari para jokowers dan ahokers yang sering mereka lontarkan:
“Jokowi sudah jadi presiden. Ahok sudah jadi gubernur. Itu artinya mereka adalah pemimpin yang diridhoi oleh Allah. Jadi kalau ente melawan Jokowi dan Ahok, itu artinya ente melawan takdir Allah.”

Hm… argumen yang terkesan sangat bijak dan sangat agamis. Tapi benarkah itu?

Mari kita analisis bersama.

Setelah Jokowi jadi Presiden dan Ahok jadi Gubernur, kita bisa menyaksikan Indonesia makin kacau-balau, baik dari segi perekonomian, penegakan hukum, dan sebagainya. Maka, satu-persatu rakyat yang dulu mendukung mereka pun mulai sadar.

Dulu di awal tahun 2014, saya boleh dikatakan “berkoar-koar sendirian”. Saya sendirian membahas Jokowi dan Ahok, sementara sebagian besar rakyat Indonesia (termasuk teman-teman saya) hanya bisa diam, tidak berani bicara. Banyak pula di antara mereka yang menuduh saya tukang fitnah, provokator, dan sebagainya.

Tapi, fakta demi fakta yang terbentang di depan mata, membuat satu-persatu rakyat Indonesia mulai sadar. Dulu saya bergerak sendirian. Namun kini, justru banyak tokoh nasional yang jauh lebih keras kritikannya dibanding saya. Semakin ke sini, semakin banyak rakyat yang bersuara lantang, memprotes kebijakan-kebijakan pemerintah, memprotes ketidakadilan, dan seterusnya.

Dan puncaknya adalah pada kasus Al Maidah 51. Setelah penistaan itu terjadi, maka umat Islam yang selama ini OGAH bicara agama, tiba-tiba bersuara lantang. Umat Islam yang selama ini tak pernah shalat, bahkan rajin berbuat maksiat, tiba-tiba bangkit dan tergerak hatinya untuk membela Islam, karena di dadanya masih tersimpan iman dan hidayah dari Allah.

Kiwil, komedian yang selama ini kita kenal sebagai orang yang hanya bisa berlucu-lucuan di televisi pun, tergerak hatinya untuk ikut membela Islam, setelah kasus penistaan agama terjadi.Selain Kiwil, Jaja Miharja juga ikut meramaikan aksi 411

Tiba-tiba saja, umat Islam bersatu, melupakan semua perbedaan.

Jika dulu kita hampir setiap hari sibuk berantem tentang doa qunut, tentang maulid, tentang tahlilan, tentang celana cingkrang, dan sebagainya, kini kita melupakan semua itu. Kita bersatu-padu di dalam tali ukhuwah Islamiyah yang sangat indah.
Sepanjang hidup ini, baru kali ini saya menyaksikan persatuan umat Islam yang sebesar dan seindah ini. Allahu Akbar!
tangkap penista alquran

Dan jika kita runut peristiwanya ke belakang, semua ini berawal dari terpilihnya Jokowi sebagai presiden dan terpilihnya Ahok jadi gubernur DKI.

Coba kita bayangkan:
Andai yang dulu terpilih jadi presiden adalah Prabowo, apa yang terjadi dengan Indonesia?

Mungkin, Indonesia jauh lebih baik dibanding era SBY. Mungkin Indonesia akan lebih disegani di luar negeri. Mungkin utang-utang luar negeri kita sudah lunas semua. Mungkin Indonesia bisa terbebas dari penjajahan ekonomi oleh para investor asing. Mungkin Indonesia jauh lebih berjaya dibanding era-era sebelumnya.

Namun apakah Prabowo bisa menyatukan umat Islam seperti yang terjadi saat ini? SAYA TIDAK YAKIN. Mungkin umat Islam masih terpecah-belah, sulit bersatu, seperti pada era-era sebelumnya.

Memikirkan analisis seperti ini, tiba-tiba saya tersadar:

Ternyata yang diinginkan oleh Allah untuk Indonesia adalah bersatunya umat Islam. Itulah sebabnya DIA menjadikan Jokowi sebagai presiden, dan menjadikan Ahok sebagai gubernur DKI.

Allah telah menjadikan Jokowi dan Ahok sebagai pemimpin di Indonesia, untuk mengobati penyakit “terpecah-belah” yang selama ini melanda umat Islam di Indonesia. Kehadiran kedua orang ini merupakan CARA ALLAH untuk membuat umat Islam bersatu padu, menjalin ukhuwah Islamiyah yang sangat indah.

Jadi:
Memang benar, Allah telah menakdirkan Jokowi dan Ahok sebagai pemimpin Indonesia. Tapi itu bukan berarti Allah meridhoi mereka berdua. Justru, Allah menakdirkan seperti itu, bertujuan agar mereka berdua menjadi OBAT BAGI INDONESIA.

Jadi:
Ketika Allah mengizinkan sesuatu terjadi, itu bukan jaminan bahwa Allah meridhoi hal tersebut. Sama seperti ketika Allah menjadikan Fir’aun sebagai raja di Mesir, apakah Allah meridhoi-nya? TENTU TIDAK.

Wallahualam. Bagaimana menurut Anda?

Jakarta, 10 November 2016
JONRU
###

Barangkali kamu termasuk yang sejalan dengan pemikiran Jonru? Wallahu a'lam.

Hasil Uji Labfor Video Ahok di Pulau Seribu Telah Keluar, Ini Hasilnya

MUSLIMANEWS. Ksus dugaan penistaan agama oleh BTP seakan tak ada ujungnya. Seperti sidang kopi sianida, banyak saksi ahli didatangkan, bukti-bukti dipaparkan. Inilah laporan terbaru soal video dugaan penistaan agama oleh BTP. #belaalquran411

video ahok terbukti menghina alquran

Brigjen Agus Andrianto

Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri telah merampungkan hasil ujinya terkait video berisi ucapan Gubernur DKI Basuki T Purnama (Ahok), yang diduga menistakan agama.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Agus Andrianto mengatakan, hasil uji labfor menyebutkan hanya terjadi pemotongan video. Sedangkan penambahan-penambahan tertentu tidak ditemukan sama sekali di dalam video itu.

"Hanya dipotong tidak ada penambahan dan tidak ada pengurangan," ujar Andrianto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (25/10/2016).

Ia menuturkan, setelah hasil uji labfor keluar pihaknya pun melakukan klarifikasi kepada yang bersangkutan dalam hal ini Ahok. Hasil klarifikasi pada mantan bupati Belitung Timur menyatakan bahwa memang tidak ditemukan juga penambahan dalam video yang telah dipotong itu.

"Kita sudah klarifikasi pada pak Ahok bahwa durasi pendek tidak ada penambahan," ujarnya.

Kendati demikian lanjutnya, proses penyelidikan dugaan penistaan kepada surah Almaidah 51 akan terus dilanjutkan. Karena hasil Labfor telah keluar maka langkah selanjutnya adalah mendatangkan para aksi ahli.

sumber: teropongsenayan

HEBOH !!! Ramalan Gus Dur Tentang Ahok Dan Kini Terbukti...

HEBOH !!! Ramalan Gus Dur Tentang Ahok Dan Kini Terbukti...
 
Almarhum Nurcholis Madjid (Cak Nur) sambil bercanda pernah berkata: “Hal yang misterius dan hanya Tuhan yang tahu, selain jodoh, maut, dan rezeki, adalah Gus Dur”.
Gus Dur -allah yarham,- memang begitu misterius, hingga sikap, ucapan dan kebijakan beliau sering disalah pahami orang lain, bahkan oleh sebagian warga Nahdhiyin (NU) sendiri. Apalagi musuh-musuh beliau menilai bahwa ucapan dan sikap beliau tidak masuk akal, malah mereka "men-cap" beliau sebagai orang gila.
Namun belakangan terlebih setelah Gus Dur wafat, sikap dan ucapan beliau yang dianggap tidak masuk akal ternyata terbukti benar. Seperti yang diceritakan para tokoh Vatikan, saat Gus Dur menjabat sebagai ketua PBNU, beliau mengunjungi Vatikan. Dan sambil guyon Gus Dur berkata bahwa beliau akan datang lagi ke Vatikan tapi tidak sebagai ketua PBNU tapi sebagai seorang Presiden.
Ucapan Gus Dur hanya dianggap candaan oleh para tokoh Vatikan. Dan ternyata pada kunjungan selanjutnya membuat tokoh Vatikan terkaget-kaget, Gus Dur memang datang sebagai seorang Presiden. Itulah mengapa beliau dijuluki "santo" oleh para tokoh Vatikan.
Saat Gus Dur diminta pertanggung jawaban oleh DPR, dengan gagah berani beliau datang ke gedung bundar dan menghadapi anggota DPR. Di hadapan mereka semua dengan lantang Gus Dur mengatakan bahwa DPR seperti Taman Kanak-kanak.
Saat itu banyak anggota DPR yang tersinggung dan menuding Gus Dur gila. Tapi pada kenyataan yang kita lihat, ternyata benar apa yang dikatakan Gus Dur. Anggota DPR senang ketika jalan-jalan dan tidur ketika sidang, senang rebutan proyek, hobbynya meminta-minta dari #papa_minta_saham, #mama_minta_s0ftex dan sekarang#si_papa_malah_minta_kasur dan masih banyak lagi.
Pak Sutarman adalah ajudan Gus Dur, dan Gus Dur pernah berkata pada Pak Sutarman: "Nanti Pak Tarman akan jadi Kapolda Metro setelah itu Pak Tarman akan menjadi Kapolri." Pada saat itu Pak Sutarman hanya tertawa karena mengganggap itu tidak akan terjadi, bahkan bermimpi menjadi Kapolri-pun belum pernah. Dan tepat pada tanggal 23 Oktober 2013, Pak Sutarman resmi dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden SBY.
Pada 8 Januari 2006, Gus Dur pernah mampir ke rumah dinas walikota Solo untuk bertemu dengan beberapa tokoh agama. Saat itu Bung Joko baru 6 bulan menjabat walikota. Dan pada hari itu Gus Dur berkata: “Siapapun yang dikehendaki rakyat, termasuk Pak Jokowi ini, kalau dia jadi Wali Kota yang bagus, kelak juga bisa jadi presiden." Bung Joko hanya senyam-senyum pada waktu itu.
Di pagi hari, Gus Dur meminta Kang Said (KH. Aqil Siradj) untuk menyediakan air putih dan roti tawar untuk sarapan. Lalu Gus Dur meminta Kang Said untuk membacakan kitab Ihya' Ulumuddin. Baru dibacakan dua paragraf Gus Dur sudah mendengkur. Lima menit kemudian beliau terbangun dan berkata pada Kang Said: "Sampean akan menjadi ketua PBNU di atas usia 55 tahun".
Pada Muktamar NU ke 30, Kang Said di usia 46 tahun mencalonkan diri menjadi ketua PBNU bersaing dengan KH. Hasyim Muzadi. Dan yang terpilih pada saat itu adalah KH. Hasyim. Dan pada muktamar NU ke 32, Kang Said mencalonkan diri lagi menjadi ketua PBNU dan beliau terpilih tepat di usia 56 tahun.
Setelah gagal menjadi gubernur Bangka Belitung, Koh Ahok bertemu Gus Dur dan Gus Dur berkata: "Kamu akan menjadi gubernur".
Guru Besar UGM Profesor Suhardi, pernah menjadi Dirjen di Departemen Kehutanan di era Gus Dur. Di ruang ICCU berapa hari sebelum Gus Dur wafat. Gus Dur berkata pada Pak Hardi: “Pak Hardi saya titip bangsa ini. Tolong ikut dikawal Pansus Century di DPR. Besok Kamis saya akan pulang ke Tebuireng dengan diantar banyak orang. Saya sudah ditunggu ayah saya di sana,"
Dan masih banyak lagi kisah misterius tentang Gus Dur. Dan yang membuat tertawa adalah perkataan Gus Dur pada Fidel Castro: "Saya menjadi presiden dipilih oleh orang-orang gila". Sekarang kita saksikan sendiri bagaimana perilaku mereka yang memilih Gus Dur pada masa itu.
semoga bermanfaat ....
amiin

Panglima TNI: Umat Islam Benteng Terakhir NKRI....

 
Panglima TNI: Umat Islam Benteng Terakhir NKRI....
PANGLIMA TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyampaikan soal ancaman global dan budaya ekonomi yang menyebabkan resesi ekonomi juga depresi ekonomi. Menurut Gatot, hal itu mengakibatkan krisis ekonomi dan kompetisi global serta hancurnya tatanan masyarakat yang sedang mengancam NKRI. Gatot menegaskan bahwa umat Islam-lah yang menjadi benteng terakhir NKRI. Demikian disampaikan oleh Gatot dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) TVOne, Selasa (8/11/2018)
“Demo 411 betul-betul sangat indah dan damai. Dengan tenang, tertib menyampaikan, sehingga mereka mematuhi aturan yang disampaikan Pak Kapolri,” tuturnya.
Gatot juga mengapresiasi peran serta para ulama dalam membimbing dan menyejukkan umatnya agar tidak berbuat anarkistis dalam aksi damai pada 4 November 2016. Menurut Gatot, walaupun para pendemo diprovokasi untuk berbuat anarkistis, namun tidak terpengaruh sama sekali.
“Islam itu indah dan sangat indah, apa yang dilakukan umat islam 411 itulah keindahan dalam karena Islam itulah keindahan Islam itulah Indonesia dan itulah kebhinekaan. Hal ini terlihat ketika ada resepsi seorang Nasrani di Katedral, umat Islam membersihkan area Katedral supaya gaun yang panjang yang dipakai orang ini tidak kotor, itulah kebhinekaan,” tuturnya. 
Sumber : islampos.com